Selasa, 18 Desember 2012

Mukjizat didalam Keheningan Tahajjud



Sejak kecil dia tinggal bersama neneknya yang sudah tua rentan itu.Ayahya yang sudah meninggal karena tabrakan saat pulang bekerja dan akan menuju ke rumah sakit hendak melihat si buah hati mungilnya telah lahir.Ibunya pun menghembuskan nafas terakhirnya saat melahirkan adiknya,sejak dia berumur 2 tahun dia sudah di asuh oleh neneknya.Dan dia harus belajar mandiri karena dia mempunya 2 orang saudara,adik dan kakaknya tinggal bersama tantenya,karena tidak mungkin mereka semua tinggal bersama neneknya,sedangkan neneknya sudah tua rentan,dan hanya bekerja sebagai seorang penenun,
Kini Geza sudah mulai tumbuh dan beranjak dewasa,teman-teman sebayanya sudah mulai masuk sekolah,sedangkan dia harus banting tulang bekerja di ladang membantu neneknya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan mencari sesuap nasi agar dia dapat bertahan hidup.
Program wajib sekolah 9 tahun dari pemerintah,menggerakkan pintu hatinya untuk brsekolah sama seperti teman-temannya,sebenarnya dari dulu dia sangat ingin untuk bersekolah sama seperti teman-temannya yang lain,tetapi karena keadaannya yang tidak mampu untuk membiayai sekolah,maka dia  memilih untuk membantu neneknya untuk mendapatkan sesuap nasi.
Kini Geza sudah bisa bersekolah,walaupun sepulang sekolah dia harus membantu neneknya bekerja mencari uang,tapi dia sudah senang karena dia bisa menimba ilmu.Geza sangat berkeinginan untuk membahagiakan neneknya,karena neneknya sudah merawatnya dari dia kecil sampai dia remaja.Geza berniat akan membawa neneknya ke mekkah,meskipun sekarang neneknya sudah tua rentan,sedangkan Geza baru duduk di bangku kelas 3 SD,tapi Geza tetap otimis dan selalu bertekad dia akan membahagiakan neneknya dan akan membawa neneknya ke mekkah.
Suatu hari sinenek jatuh pingsan saat mencari kayu bakar kehutan untuk memasak,tidak seorangpun yang mengetahuinya.Saat Geza pulang sekolah,dia  memanggil neneknya,ternyata neneknya tidak ada di rumah.Bergegas dia pergi ke hutan untuk mencari neneknya,karena tidak biasanya si nenek jam segini tidak ada di rumah.
Sesampai di hutan,Geza melihat neneknya terkapar tak berdaya di bawah pohon yang rindang,dia menyangka neneknya tertidur.Ternyata setelah dia memanggil neneknya,si nenek tidak sadarkan diri,gezapun menangis dan berteriak meminta tolong.
Seminggu berlalu nenek Geza sakit,penyakitnya bertambah parah.Geza harus menggantikan semua pekerjaan neneknya.Hingga suatu hari nenek Geza meninggal dan Gezapun harus tinggal sebatang karang di rumah itu.
Karena hidup yang susah,Geza terpaksa untuk tidak bersekolah lagi.Dia memilih untuk menjadi seorang pedagang ikan di sebuah pasar yang tidak jauh dari rumahnya.Sebelum berjualan di pasar,Geza harus memancing dulu di sungai.
Suatu hari Geza pulang dari pasar,karena kebetulan jualannya cepat habis.Dia bertemu dengan seorang musafir,lalu musafir itu bercerita kepadanya.
“Ada  dua jenis uang berbeda sedang.Yang mana ada sehelai uang lembaran Rp.1000 dan Rp.100.000.mereka di cetak di bank yang sama,dengan kertas yang sama,hingga suatu ketika mereka di edarkan ke masyarakat luas.
Tiga bulan kemudian mereka bertemu di dalam dompet geza.lalu terjadilah percakapan antar kedua lembaran uang kertas tersebut.
Rp.100.000  :” kenapa badanmu terlihat begitu kotor,berbau amis,dan terlihat jelek?”
Rp.1000       :”karena setelah kita berpisah,aku langsung di pegang oleh rangyat jelatan,masyarakat rendahan,pengemis,tukang becak.kalo kamu kenapa masih terlihat utuh dan masih baru?”
Rp.100.000  :”karena saat baru keluar dari bank,aku langsung mampir ke wanita cantik yang kaya raya.aku di simpan di tempat yang sangat rapi.disana teman-temanku sangat banyak.aku selalu mampir di mall,restaurant,dan hanya sesekali di keluarkan dari dompet”.
Rp.1000        :”pernahkah kamu mampir ketempat-tempat ibadah?”
Rp.100.000  :”tidak pernah”
Rp.1000       :”kasihan sekali kamu,cantik-cantik begini gak pernah mampir ke       tempat-tempat ibadah.percuma tubuhmu rapi,terlihat seperti masih baru,tapi gak pernah memberikan manfaat untuk rakyat jelata,dan tidak pernah pernah digunakan untuk mencari pahala.
Uang rp.100.000 menangis tersedu-sedu,dia malu kepada uang 1000 yang jelek tapi bermanfaat bagi semua kalangan.
Musafir itu berpesan kepada geza.kamu jangan putus asa dalam menjalani hidup ini nak,karena tidak ada gunanya hidup kaya namun tidak memberikan manfaat kepada orang lain.biarlah jadi orang kalangan sederhana,jelek,tetapi bermanfaat bagi orang banyak.
Geza termenung seraya mencerna kata-kata dari musafir itu.lalu dia bertanya,”kakek mau kemana?”.”saya musafir hendak menyampaikan amanat kepada orang-orang yang beriman”.
Kakek tersebut pamit dan melanjutkan perjalanan.lalu geza berkata “ saya harus bisa menjadi uang Rp.100.000 yang bersifat seperti uang Rp.1000.
Geza tumbuh menjadi besar dan mulai dewasa.Masa-masa remajanya yang diisi dengan bekerja membanting tulang,untuk kelansungan hidupnya.Geza tak sama seperti teman-temannya yang lain,yang bisa berhuru hara kesana-kemari.Namun geza tidak pernah menyesali keadaannya.
Suatu hari saat geza hendak pergi kesungai untuk memancing ikan,geza bertemu dengan segerombolan orang membawa pisau.Geza pun terkejut,dan mencoba untuk menghindarkan diri dari orang-orang itu.geza pun melanjutkan perjalanannya melewati jalan yang lain.Setelah selesai memancing ikan,geza langsung bergegas pergi ke pasar untuk menjual hasil pancingannya itu.
Siangpun berlalu dan langitpun mulai menimbulkan cahaya orange di ufuk barat.Azan magrib berkumandang di masjid dan mushola.geza bergegas untuk berwudhuk dan melakukan sholat magrib.setelah sholat magrib,geza selalu berdoa kepada allah swt agar dia selalu diberi kesehatan oleh allah dan tidak lupa mendoakan neneknya.
Setelah selesai sholat magrib,dan makan malam,geza pergi keluar dan duduk di pondok kecil di samping gubuk tuanya itu,geza termenung sambil menatap kelap kelip bintang yang di temani dengan indahnya senyuman si bulan purnama.terlintas di benak geza,”sudah sekian lama saya di tinggal nenek,namun nasib saya semakin sehari semakin meburuk,kapan nasib ini akan berobah?”.
Gezapun mulai tersesat dan enggan untuk bekerja.Dia mengikuti perbuatan-perbuatan jahil teman-teman sebayanya yang senasib dengannya.Kini Geza sudah mulai terpengaruh oleh perbuatan-perbuatan maksiat.Geza yang dahulunya tak pernah kenalan dengan rokok,sekarang dia mulai akrab dengan rokok.Warga kampungnya pun mulai perihatin dan banyak yang membenci Geza.Geza yang dulunya rajin sholat,suka menolong,sekarang sudah menunjukkan sifat yang sangat bertolak belakang.
Kelakuan geza yang berubah kea rah negative secara drastic itu membuat warga menjadi resah.Anak yang tak tentu ibunya itu entah dimana,keluarga yang tak peduli lagi dengannya,membuat warga kasihan dengannya,namun dia sekarang sudah menyimpang kea rah negative.
Untuk mengisi kekosongan perutnya,sekarang geza tak lagi mencari makanan dengan cara yang halal.geza sudah ahli dalam bidang mencuri,merampok,dan mengambil yang bukan haknya sendiri.Sampai suatu ketika saat geza sedang mengendap-endap masuk ke kebun pak Oman,Geza tertangkap oleh salah seorang warga.sudah sekian kali geza tertangkap mengambil barang yang bukan miliknya itu.geza di arak ke kantor polisi dan harus menghuni jeruji besi itu selama  3 tahun.
Didalam rutan,geza selalu kena pukul,ditinju dan di tampar orang-orang yang ada di dalamnya bersama dia.Akhirnya Geza jatuh sakit.Badannya mulai kurus,lemas dan terkapar tak berdaya.
Kini Geza mulai sadar,bahwa keinginannya untuk menjadi uang Rp.100.000 dan mempunyai sifat sama seperti uang Rp.1000,teringat kembali oleh Geza,hatinya mulai terguncang kembali.Dikeheningan malam Geza terbangun dari tidurnya.Bergegas Geza bewudhuk dan melaksanakan sholat tahajjud,dalam doanya ia meneteskan air mata,air mata penyesalan karena menyesal dengan perbuatan yang telah dilakukannya.
Teringat oleh Geza semua kesalahan yang dilakukannya.Keluarganya yang tak pernah melihat keberadaannya selama dia di tahan di dalam penjara.Kini Geza tidak tahu keberadaan keluarganya.Semenjak ditinggal neneknya,Geza hanya tinggal sebatang kara.Wanita yang melahirkannya,tak pernah ia temui sosok wajahnya.Dari kecil geza tidak pernah mendapatkan belas kasihan dari orang tuanya.
Sudah sepantasnya Geza berbuat kemaksiatan.Setelah selesai berdoa,geza duduk termenung sambil menganalisah semua perjalanan hidupnya.Mulai dari menjadi penjual ikan,menjadi orang yang dermawan,sampai menjadi penghuni rutan,telah di coba oleh Geza.Saatnya sekarang Geza menikmati masa-masa remajanya.Tekadnya akan menjadi Rp.100.000 dan bersifat seperti Rp.1000 telah bulat.
Tiga tahun berlalu dan gezapun terbebas dari ukumannya.Begitu keluar dari penjara,Geza langsung bergegas kegubuk tua peninggalan mendiang neneknya itu.Semua sudah berubah.Puing-puing sisa gubuknya tak lagi dia temukan,ntah kemana kakinya akan di langkahkan.
Geza pergi kesuatu mesjid yang baru di bangun di kampungnya itu,kebetulan belum ada yang akan menjadi gharim.Geza mencoba untuk mendekatkan diri dengan para jemaah mesjid tersebut.Untuk sementara Geza menjadi seorang gharim di mesjid.
Tekad Geza yang ingin menjadi orang kaya yang bermanfaat bagi semua orang itu,perlahan-lahan ia mulai menampakkan.Geza menjadi guru mengaji dan berjualan gado-gado di samping masjid itu.Penghasilannya yang lumayan lebih dari cukup ia tabung.Sedikit demi sidikit,lama-lama menjadi bukit,Gezapun menunaikan ibadah haji ke mekkah.Sebelum berangkat Geza pergi ke makan neneknya yang tak jauh dari perkampungan tempat Geza tinggal sekarang.Dia menangis tersedu-sedu,karena tidak sempat memberangkatkan neneknya untuk naik haji ke mekkah.
Sepulangnya dari mekkah,Geza langsung membeli tanah dan membuat sebuah rumah di depan mesjid baru itu.Sekarang Geza sudah menjadi pengusaha gado-gado,dan pengusaha roti yang kaya raya,dan hidup menjadi orang yang dermawan,dan juga bermanfaat bagi semua orang di kampungnya itu.
By : Dinda Kurnia Shafitri

0 komentar:

Poskan Komentar